Tertawa Yang Hahaha

December 30th, 2008 by bingungbikinnya

Lagi, lagi, lagi, parodi. Ketika kelopak mata terbuka hari ini dan kemarin hari, sehari penuh itu mungkin saya tertawa-tawa dalam berbagai hal untuk menutupi atau tidak menutupi apa-apa. Lalu, setiap kelopak mata lelah ketika menjelang pagi… dalam pikiran saya terulang-ulang kalimat seperti ini, “sampai kapan saya terus seperti ini?”

Mungkin kalau semuanya terjadi, di masa depan atau satu detik kemudian, atau ketika tulisan ini dibaca kembali. Segala “standart” masyarakat atau khalayak banyak… terjadi pada diri saya… yakni saya memiliki rumah, wajah sopan yang teduh dan berpakaian rapi, istri yang “cantik” seperti orang-orang bilang, pekerjaan tetap yang bergengsi, uang atau kehidupan ekonomi yang cukup bahkan lebih dari cukup, kehidupan anak dengan pendidikan layak dan keuangan yang terpenuhi. Ya, kehidupan sosial yang seperti manusia-manusia lain pikir…. Saya tidak munafik, ada pikiran seperti itu terlintas, terutama ketika kelopak mata ini mulai lelah dan memikirkan standart budaya keindahan dunia terpenuhi jika semua itu diraih oleh seorang-sosok semacam saya.

Saya tertawa…, mungkin kalau hal itu sampai terjadi.

Mungkin kalimat ini juga akan keluar dari mulut saya ketika terdiam-terpikir masa lalu ketika saya sudah meraih semuanya, yakni…: “Saya rindu bosan, saya rindu khawatir, saya rindu mengkhawatirkan nasib-nasib orang lain, saya rindu tidak mengejar apa-apa, saya rindu yang tidak merindukan apa-apa, saya rindu cemas, saya rindu sulit menutup kelopak mata ketika kantuk datang dan segala teror standart masyarakat yang menyerang pikiran-pikiran saya… dan saya sangat rindu parodi menertawai diri sendiri.”

Hari ini, tertawa. Hari besok tertawa. Ketika “berhasil”… saya mungkin akan menertawai apa itu… “berhasil”. Kelak… saya, kamu, kalian, mereka akan menertawai parodi di atas parodi diri di diri-dirinya sendiri, bahkan ketika tidak sempat karena sudah dijemput ajal. Tetap menertawai. Dan…, akan tertawa lebih terbahak-bahak ketika saya ditertawai….

“Haha…,” ya suaranya semacam itu. Mari tertawa, mari menertawai, mari ditertawai, sampai tertawa-tawa entah mengapa harus.

Saya mau muntah…, ini sungguh-sungguh mau muntah. Saya mau muntah, muntah tentu sulit untuk tertawa. Saya benar-benar mau muntah, Demi Tuhan saya mau muntah.

- Galih. 30 Desember 2008, dalam rangka menyambut tahun baru… dengan bahagia (?), tentu -

Lukisan (sebuah bingkisan di Hari Ibu)

December 21st, 2008 by bingungbikinnya

Ayahnya, adalah seorang pekerja seni. Di usianya yang menginjak 60, ia masih terlihat segar dan muda.

….

“Wajah ibu lagi?”

“Ya….” ujar Ayah, “aku ingin melukisnya, terus. Ini adalah lukisan yang paling sempurna yang pernah aku buat nantinya, anakku….”

Studionya sudah penuh lukisan wajah ibu. Ia melukisnya semenjak mendiang masih ada. Ia melukis wajahnya sejak ia baru menikah dengannya hingga satu tahun yang lalu, ibu meninggalkan aku dan dia. Ya, Ia kali ini, akan menyelesaikan lukisan yang menurutnya adalah yang paling sempurna.

“Lukisan ibu yang seperti apalagi, Ayah?”

“Yang paling sempurna,” ayahku menghentikan di sapuan kuas yang baru membentuk sketsa wajah perempuan dengan ekspresi yang aneh. Ia duduk berjongkok memerhatikan dari bawah dengan kepala mendongak.

“Semua yang ada di dunia, hanya mengikuti sifat alaminya, anakku…”

“Sifat apa ayah?”

“Sifat dan sikap, yang paling sempurna dari semua ibu…”

“Apa itu, Ayah?”

“Yang aku lukis adalah bentuk seni terbaik yang pernah ada. Orang sepertiku, hanya mencatatnya saja…, dan melakukan seperti apa yang ia lakukan, Anakku…”

“Lukisan semacam yang kau lukis, Ayah?”

“Manusia yang melahirkan.”

- Selamat Hari Ibu…. deugalih, 22 Desember 2008, Warnet Target - Jatinangor

Hak Mendapatkan Pendidikan di Jatinangor

December 20th, 2008 by bingungbikinnya

Ada minimal jumlah anak-anak yang seharusnya mendapatkan haknya bersekolah di lingkungan mahasiswa Universitas Padjadjaran, setidaknya 20 orang untuk saat ini, terutama untuk anak-anak yang berkeliaran di jalan dan mengamen di sekitar lingkungan kampus tersebut. Sedikit? Bisa ya, bisa tidak.

….

Saya ingat Bismar Yogara, kawan dekat saya. Sedang mendidik anak-anak usia 5 sampai 9 tahun untuk belajar membaca dan menulis pada sekitar tahun 2003-2004 (dari mulai membantu mengerjakan PR atau di luar hal tersebut), waktu itu ia masih kuliah. Bismar yang akrab dipanggil Yoga, setiap usai adzan Maghrib ia didatangi anak-anak dari kampung Sukawening-Jatinangor untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Yoga memang mudah akrab dengan anak-anak, sesekali ia dibantu oleh kawan-kawannya, walaupun lebih kikuk untuk mengajari mereka dibanding Yoga. Seharusnya memang tidak kikuk seperti itu. Ada hal yang lebih penting, yakni, hak mendapatkan pendidikan pada anak-anak semenjak dini.

Mungkin belum terlambat, pastinya, tidak terlambat. Anak-anak lebih menyukai belajar dengan temannya, ia lebih bebas bertanya, lebih bebas berekspresi, lebih bebas mengemukakan apa yang menjadi pikiran-pikiran dan fantasi-fantasi mereka yang unik untuk manusia seumur saya.

Anak-anak lebih menyukai kebebasan daripada keteraturan, yang saya lihat, hal tersebut cukup sulit dimengerti untuk usia 5 sampai 9 tahun. Ya, keinginan berseragam dan bersepatu memang ada, tapi hanya karena anak-anak lain (yang sekolah) yang mereka lihat seperti itu. Lalu, bagaimana yang tidak mampu membeli atau yang tidak mampu bersekolah? Di tengah kehidupan yang hampir seperti kota besar untuk segi kepentingan dan gaya hidup di Jatinangor, rasanya menjadi hal yang cukup kontras ketika para mahasiswa berangkat ke kampus di pagi hari, dan mereka para bocah sibuk berkeliaran di antara mereka.

Ini ide. Bila ada yang membaca di sini, ada yang setuju dengan saya… silakan hubungi saya. Atau tidak menghubungi pun, tidak apa-apa. Untuk membantu mereka dengan sukarela di Jatinangor.

SIMALAKAMA

October 14th, 2008 by bingungbikinnya

Surga…. Entah, berapa lama waktu yang lalu….

Iblis sedang diam merenung hari ini bersama anaknya, Setan.

“Rasanya ada yang tidak beres dengan keadaan waktu itu.” Kata Iblis…, “saya yakin, saya menjalankan segalanya dengan baik. Mungkin, sekarang ini pun adalah yang terbaik.”

“Memang ada apa, Pak?” Kata Setan dengan perangai yang selalu ceria.

“Kita memang seperti dianugerahi kebebasan, mungkin malah bukan sepertinya saja. Ini memang anugerah… anugerah untuk sebuah penciptaan mahluk paling sempurna, yakni ketika Tuhan menciptakan satu-satunya mahluk yang bermasalah….”Ujar Iblis…, “ini adalah permainan paling menarik….” Iblis tersenyum dan melanjutkan kalimatnya, “nah, bukan itu saja yang menarik, anakku….”

“Apalagi, Pak?” Timpal Setan yang sedang angguk-anggukan sambil menjawab sesuatu yang bukan pertanyaan baginya.

“Ini lucu…”

“Lucu apa, Pak?”

“Saya yakin. Malaikat waktu itu menyembah Adam, karena keimanan yang ia percaya mengharuskan ia menuruti segala apa yang Tuhan perintahkan….”

“Memang seperti itu, Pak. Kenapa, Pak?”

“Saya pun begitu. Karena iman saya, saya mempercayai bahwa yang patut saya sembah hanya Tuhan saja, bukan siapa, apa, bersifat bagaimana selain Dia….”

“Lalu, Pak?” Setan mulai dengan wajah yang serius mendengarkan ayahnya bercerita….

“Begini….” Ujar Iblis dan ia terdiam sejenak… “Kalau saja, saya waktu itu menyembah Adam, apa yang akan Tuhan beri jawaban?” Ujar Iblis dengan senyum menahan tawanya….

Mereka berdua terdiam dengan mata semakin melotot… Tak lama kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak….

- Galih + Cubek

Tielman Brothers Si Sawo Matang Lincah di Tengah Eropa

June 17th, 2008 by bingungbikinnya

Si Sawo Matang di tengah-tengah Folk Eropa (saya bilang begitu), untuk Tielman Brothers. Empat sekawan ajaib berasal dari Timur Indonesia ini, Maluku. Dengan sebutan Indo-Rock oleh masyarakat musik Belanda, dan di sanalah tempat membesarkan band dan musik mereka.

Tielman Brothers pada awalnya masih memakai brand mereka dengan nama The Timor Rhythm Brothers (1945 - 1957). Mereka memainkan pada khasanah Folk dan Keroncong. Perjalanan mereka dimulai dari kota Surabaya pada tahun 1947, dengan  rand The Timor Rhythm Brothers (Ponthon – double bass, Reggy – banjo dan vokal, Loulou - drums, Andy – gitar dan vocal, dan ditemani Jane saudari mereka saat itu… ia mengisi pada vokal). Gigs-gigs mulai berdatangan, dari Surabaya sampai kota-kota lain di Indonesia.

Hanya dengan waktu setengah tahun nama mereka sudah melambung, dan menerima tawaran dari NIWIM (semacam: badan usaha yang menangani jasa kesejahteraan nasional di Indonesia) yang mendukung mereka tour bersama band-band ternama asal Belanda lain semacam De Wama’s, The Ramblers, Skymaster… dan melakukan tour  i kota-kota Indonesia. Mereka menggelar konsep panggung yang unik, dengan musik dan tarian khas Indonesia, terkadang memakai kostum daerah setempat sampai atribut lainnya. Pada tanggal 29 Desember 1949, Tielman Brothers bermain di Istana Presiden di hadapan presiden Soekarno sebagai tamu istimewanya.

Tielman Brothers berkembang sangat pesat. Jangan kaget kalau mereka juga menaruh bibit inspirasi untuk nama-nama berikut: Elvis Presley, Beatles, sampai The  Doors. Tielman bersaudara mampu melanjutkan evolusi dari Folk yang sederhana menuju Rock n’ Roll yang bernuansaatraktif. Yap… jauh sebelum Malmsteen atau Hendrix memetik gitar dengan gigi mereka, atau ajrut-ajrutan a’la At The Drive In yang sulit sekali untuk diam, sampai memberi celah solo untuk drums… Tielman Brothers sudah melakukan evolusi tersebut semenjak akhir tahun 40-an. Wow!

Sejak akhir tahun 40’an sampai sebelum memasuki tahun 1957 adalah salah satu sejarah untuk empat sekawan ini… Tielman cs, sudah mengembangkan sayapnya bermain ke luar Indonesia. Pada beberapa waktu memaksa mereka merubah kewarganegaraan dari Indonesia-Belanda sampai Belanda-Indonesia. Akhirnya tahun  tu… di 1957, mereka memutuskan menetap di negeri sepatu kayu dan kincir angin. Mengawali tour-tour mereka kembali, di negeri kincing angin Belanda. Menurut ayah mereka, Herman Tielman, Tielman Brothers memiliki masa depannya di Belanda bukan Indonesia. Ya… akhirnya Timor Rhythms lebih dikenal dengan The Tielman Brothers atau The 4 T’s, dan mereka merintis karir mereka mulai dari kota-kota Belanda seperti Breda, Vught, dan Hertogenbosch. Sampai akhirnya nama mereka besar di tanah Eropa.

20 menit untuk membuat mereka cukup terkenal di Eropa. 17 April 1958, adalah sejarah. Atomium dengan bola aluminium raksasa di Brussel – Belgia, World Exhibition Expo 58. Waktu itu musik khas Hawaii dan band-band dengan membawakan lagu-lagu khas Hawaiian Folk, band semacam Steel dan Mike Anoy sangat digemari di Eropa, dan dibuatlah tempat untuk banyak pertunjukan di sana  erutama dengan musik seperti Hawaiian Folk. Tielman bersaudara pun ikut diundang bermain di sana, dan mendapat waktu selama 20 menit untuk mereka bermain, mereka memberikan suguhan Rock n’ Roll yang belum pernah dilihat sebelumnya. Seperti Andy bermain gitar dengan kakinya, di belakang lehernya, dengan giginya… aksi akrobatrik bass dari Ponthon, tak kalah menarik dengan Loulou pada permainan stik dan solo drumsnya. Selain itu, Andy dikenal sebagai pemilik sound gitar yang sangat unik. Banyak dari suara seperti gitar Andy dimainkan dengan elektronik plectrum yang dikoneksikan dengan computer untuk menghasilkan suara seperti itu. Ini juga membuktikan bahwa Andy adalah satu innovator untuk masalah sound pada gitar, terutama untuk Folk.

René ‘Nappie’ Vlasselaar seorang berkewarganegaraan Belgia, menjadi manajerdan mengurus mereka sampai mengantarkan pada Fernap, label yang menaungi mereka. Nantinya mereka melahirkan lagu-lagu cantik, semacam: Rock Little Baby Of Mine, You’re Still The One, dan lain sebagainya.

Tahun 1959 mereka menandatangani kontrak dan merekam di Bovema Studio, tidak lama kemudian menyulap mereka menjadi bintang Pop di belantika musik negeri kincir angin dan sekitar Eropa. Dari hasil Bovema melahirkan: Record Hop dan Swing  t Up.

23 Januari 1960 mereka disaksikan di televisi lagi, dengan performa yang luar biasa membawakan Black Eyes dan Rollin’ Roll. Seperti kebanyakan band Rock n’ Roll sensasional yang ada, kalau ada lagi kemunculan Rock n’ Roll tidak akan membuat  kita terkaget-kaget atau memberikan sensasi yang lebih wah. Tetapi, Rock n’ Roll yang disuguhi empat lelaki berkulit sawo matang ini memberi warna baru yang hangat untuk Negara sedingin dan seortodok Belanda pada era 50′an - 60′an. Tetapi, banyak  reviewer dari televisi hingga beberapa media mengatakan hal tidak memuaskan dan kritik yang tidak baik untuk Tielman bersaudara pada awal mereka singgah di sana.

Januari 1960, mereka merekam kembali di Bovema sebanyak 4 track lagu, yakni: Maria, You’re Still The One, Black Eyes (lagu instrumental inilah yang menjadi cikal bakal sebutan Indo-Rok untuk musik mereka), dan Rock Little Baby. Lagu-lagu yang  ernah terekam dan sulit ditemui atau dimiliki (rare songs) dirilis dalam bentuk EP (Exclusive Pack) di tahun 1991.

Karir mereka dilanjutkan di Jerman, menandatangani kontrak dengan Ringtube di Meinnheim. Album “Tielman Stage” dirilis pada tahun 1961.

Tahun 1963 Jane kembali bergabung di Tielman, dan menandatangani kontrak di Ariola Label, beberapa singelnya seperti: Tahiti Jungle (kover dari The Ventures), Ferm Am Amazonas, Java Guitar, Weine Nicht Kleine Tamara (kover Rudi Schurike), Little Hanschen Twist.

1964 – 1969, bersama Hans Bax dan Robby Latupeirisa yang berasal dari pecahan group band Indo-Rock The Javalin melakukan tur bersama di Jerman di bawah nama The Tielman Brothers, menghasilkan single: Hello Caterina.

Sampai pada tahun 1967 mereka masih terikat dengan Ariola, tetapi warna Tielman sudah banyak mengalami perubahan yang sangat besar, di tahun itu pula adalah puncak dari karir mereka. Little Bird diproduksi di Belanda pada tahun itu, dan mendapat posisi 7 untuk chart Ducth Top Fourty, dan juga dirilis di Amerika Serikat  inaungi oleh Ranwood Label. Sampai akhirnya di akhir tahun 60’an dan awal 70’an, menjadi Andy Tielman & The Tielman Brothers.

Kehidupan musik di Eropa di tahun-tahun itu mungkin akan ada statement semacam ini: ”Ga ada lagi yang dari Indonesia, kecuali Tielman” (hee…).

-

Galih Su 14-15 Juni 2008, colong sana-sini

Yang Mulia, adalah Petani

December 5th, 2007 by bingungbikinnya

Yang Mulia, adalah Petani.
Menanam benih, memelihara, memetik, lalu memberikan di seluruh-seluruh hidup.

Lalu,

ia kembali menanam benih-benih….
(5 Desember 2007)

Ketika Terbang

June 26th, 2007 by bingungbikinnya

Ingin catat tiap helai-helai sayap
Setiap helai lepasnya, ia mencerita…,
"aku ingin bertemu dengan tanah"

INDONESIAN REBELLION

February 6th, 2007 by bingungbikinnya

Mukadimmah

Ketika orang-orang Swiss, Perancis, Italia, Jerman tergila-gila dengan ZitherMania, Chandra Puspita, Discus dan sejumlah Band Ethnic berasal dari Indonesia dibuang dari label musik negaranya sendiri. Mereka mengusung Gamelan sebagai bumbu bahkan makanan pokok pada unsur musik mereka. Sementara Indonesian, dimabuk peri-peri cantik EmoCore, BritPop, Grunge, Shoegaze, Spacey, sampai Progressive.

Sementara, EmoCore, malah BritPop, Grunge, Shoegaze, Spacey, Metal, Rock n Roll sampai Progressive menaruh buih bibit Gamelan pada efek gitar mereka, synthetizer mereka, groovebox mereka. Indonesian sibuk dengan SuperHero yang terus bertambah banyak. SuperHero Melodic, Emo, Metal, BritPop, Grunge, Jazz, sampai Prosgressive.

Di sebuah Mall yang ramai dengan manusia-manusia Indonesian. Dengan mewahnya fashion yang dikemas murah-meriah di antara kerdil-raksasa kurs dollar-rupiah. Ratusan bahkan ribuan manusia Indonesian di Mall dengan busana ala jagoan SuperHero mereka, terselip bule dengan potongan celana pendek dan kaus oblong yang bersablon “I Love Gamelan”. “Mau ditaruh di mana muka kita?” Saya harus berkata seperti inikah? Saya rasa ini klise….

ZitherMania, Discus, Patrick Portella feat Chandra Puspita di tengah Swiss, Italia dan Perancis yang seksi? Mengapa menghargai mereka sebagai band termahal di negara mereka? “Mestinya kita bercermin, di mana letak libido tersembunyi dari diri kita sendiri.”

Ketika mereka mencium tangan si cantik Borneo, Papua, Java, Bali, Sumatera, East Timor, Sulawesi, Batavia, dengan sangat-sangat romantis. Di waktu yang sama Indonesian seperti mentalak tiga si cantik lugu, dan dibuai selangkangan dari Amerika, Inggris, Kolombia, Latin, Jepang dan jelita-jelita lainnya.

Jauh-dekat di pikiran ketika hendak tidur, makan, berdiskusi dan lain sebagainya. Indonesian, sebenarnya mencintai tanahnya sendiri, saya yakin. Jauh-dekat…. Indonesian merindukan baju, nyanyian, dongeng, dan buku-buku yang ibu berikan dengan ciuman cinta dan doa kelak anaknya memakai, menelaah, mencerita, memainkan, tertawa, dan meneguknya. Indonesian, pasti merindukan mainan rakyatnya dengan sangat-sangat rindu.

Sebelum tanah ini tenggelam, maukah Indonesian memeluknya dengan kerinduan yang sangat? Dan membisik di kupingnya yang penuh hiasan cantik melebihi beautifulnya anting-anting dari perak atau mas “Maaf, saya lama tersasar berlayar di tubuhmu. Maukah menikahiku hari ini juga, cantik?”

……………………………………

About that

Discus adalah satu contoh musik Progressive yang diakui di Eropa yang berasal dari Bandung Indonesia. Hebatnya, grup musik ini ditolak mentah-mentah oleh industri musik Indonesia, justru diterima sangat baik di Swiss. Band ini membawa unsur Ethnic yang Progressive dengan balutan Metal, HeavyRock, Spacey, Psychedelic, Jazz, Gamelan, Musikalisasi Puisi dan Balada. Grup Band ini berasal dari Komunitas pecinta progressive di Bandung. Cerita lucunya, “Discus lebih mahal, mewah, dan lebih hebat daripada Dream Theatre,” ujar penonton konser Discus di Swiss. Dan ini adalah Band mahal di negara itu.

Patrick Portella & Chandra Puspita adalah grup Gamelan yang besar di Perancis. Dengan aransemen jenius pada lagu daerah yang menjadi elegan. Contohnya: Dermayon, Kinanti dan tembang kawih dari Jawa Barat lainnya. Grup ini melibatkan kerjasama musisi Perancis dan Indonesia. Hmm…, spesialnya Eropa adalah ladang makmur subur untuk Indonesian Ethnic tumbuh nyaman di sana, karena Perancis, Italia, Swiss, Jerman, Denmark masyarakatnya sangat menyukai musik etnik yang berasal dari Indonesia.

ZitherMania. Saya kurang tau tentang grup band ini, yang jelas kalau penilaian saya grup ini jenius sekali. Anda bisa menyimak lagu-lagu mereka seperti: “Jipang Jalu” yang beberapa kali berubah dari mulai Sundanesse-Ethnic ke Rock n Roll kemudian Talempong dan solo setiap instrumen yang saling mengisi. Semua adalah alat musik dari Sunda dan Sumatera Barat.

ZitherMania berarti Sitar mania, di sinilah orisinalitas manusia Indonesia bereksperimantal dengan musiknya yang sangat orisinil. Bisa kita lihat pada lagu mereka yang berjudul “Genggong Giring” yang bernuansa Sunda yang erat sekali dengan “Mitologi dan Gnotism” atau banyak sekali tabu. Sebagai contoh: “Pamali” atau larangan di daerah Sunda. Dalam lirik dan nuansa musik yang membuat bulu kuduk berdiri, dengan lirik yang “Pamali”. membawa si pendengar masuk ke dalam lingkungan Sunda yang berbau mistis, mantraik, matriarki, mitologi nenek moyang mereka. Jenius.

Dan masih banyak Band Ethnic yang besar di luar negeri. Mengapa bangsa kita sendiri malu mendengar Keroncong, Orkes Melayu, Orkes Keroncong yang diadaptasi dari budaya Portugis, Gamelan, dan lain sebagainya sebagai “Bumbu” dari aransemen lagu mereka.

Banyak sudah yang mencoba unsur Ethnic Indonesia dimasukan pada musik mereka. Toh, hasilnya menambah nilai orisinalitas dan nilai plus dari pengakuan untuk musisi Indonesia pada dunia global dan bangsa kita sendiri. Baik sebagai derajat dan harga diri. Musisi-musisi masa kini yang menggunakan unsur Indonesian Ethnic bisa kita lihat seperti: Bali Lounge, Navicula, Bharata, SambaSunda, Maliq, dan masih banyak lagi.

-Galih Nugraha Kartadinata, 7 Februari 2007-

YELLOW SUBMARINE (MOVIE)

February 6th, 2007 by bingungbikinnya

Berhari-hari kerjaan cuman nonton film. Dari mulai Apocalypto, V for Vendetta, Proof, Asterix & Viking, Good Fellas, banyak banget lah. Tiap hari kitu weh…. Udud nongton udud nongton, meuni euweuh pisan gawe!

Tapi film yang paling keren, sayangnya sayah teh baru nongton. YELLOW SUBMARINEnya The Beatles yang ditonton ma si Upil. Beuh, bener juga kata si Upil emang keren. Inilah reviewnya. Jarang-jarang kan review film? Hahahaha…..

Film animasi Yellow Submarine diproduksi di tahun 1968. Di film ini ada banyak lagu baru The Beatles. Istimewanya, film ini ngelibatin visual grafis yang gila! Sayangnya saya baru nonton…. Hahaha….

Psychedelic Movie. Kata itu tepat banget. Ada banyak lagu The Beatles di sini, yang cukup mendefinisikan lirik mereka yang sangat gelap dan pintar. Sangat pas untuk Film gila dan hebat ini. Apalagi untuk masa Film pada tahun 1968.

Penuh nuansa kocak yang ga biasa. Contoh dalam 15 menit awal film ini mulai, ketika John dan Ringgo mencari George. Ketika dalam sebuah gedung yang penuh pintu tiba-tiba George membawa mobil Ringgo. “Hei bukannya itu mobil
saya?” kata Ringgo (ni versi translete, gw mana apal pake bahasa inggris mah), George jawab “Ohya, kalau begitu warnanya apa?” “Mobil ungu dengan ban kuning” kata Ringgo “Salah!” timpal George sambil bolak-balik terus pake tu mobil, setiap bolak-balik pasti warnanya berubah dan jawaban George ke Ringgo “Salah! Warna itu hanya dalam pikiranmu….” Hahaha…, filosofis banget. (Ini nih nginget-nginget omongan si Upil juga, hahaha….)

Bukan nuansa Psychedelic aja yang mereka gelas di film animasi ini. Film ini absurd, cukup skizofrenik, penuh warna-warna yang identik dengan jaman 60’s yang psychedelic, filosofis, post modernis, lelucon-lelucon segar yang smart.

Ah, dideskripsikan agak sulit….

Film ini kembali diproduksi tahun 1992. Sangat Jenius…. 5 bintang untuk mereka. Selamat menonton dan menikmati…. (^^)

LIMA BINTANG DARI SAYA SAUDARA-SAUDARA!!!!

Bakal Ke’ilangan….

January 24th, 2007 by bingungbikinnya

Tempat yang paling saya rinduin ntar…, itu Jatinangor.

Pertama kali ada di panggung dengan dinikmati oleh penonton yang menikmati dengan perasaan sangat nyaman, selain saya temuin di Wapres Bulungan tahun 2001 atau pada tahun sebelumnya dengan suasana yang hampir sama. Orang kecil seperti saya mrasa dihargai.

Tahun 2002, Oktober. PSBJ, pertama kali bawa balada, bossanova dan 2 lagu keroncong milik Ageng Purna Galih. Selalu jadi ingatan yang paling yahud. Sampai skarang, saya takut dengan orang-orang yang terlihat “besar”. Entah itu seniman atau pura-pura seniman. Dengan perangai yang hampir sama. Itu yang selalu saya rasa. Mereka ngga aneh, malah di mata saya seperti nyoba untuk aneh… itu yang buat mereka keliatan “besar”, entah besar di bagian mananya…. Haha…

Tapi, hari itu ngga. Saya ngrasa sangat-sangat senang. Liat pertama kalinya orang yang main hampir “serupa”, balada. Setelah saya dan Ageng turun.  Kembali dihinggapin rasa nyaman. Apalagi itu karyanya dia sendiri pas nampil. Setelah performance saya, Yadi yang bermain, lagunya simpel tentang onani. Haha….