Mukadimmah
Ketika orang-orang Swiss, Perancis, Italia, Jerman tergila-gila dengan ZitherMania, Chandra Puspita, Discus dan sejumlah Band Ethnic berasal dari Indonesia dibuang dari label musik negaranya sendiri. Mereka mengusung Gamelan sebagai bumbu bahkan makanan pokok pada unsur musik mereka. Sementara Indonesian, dimabuk peri-peri cantik EmoCore, BritPop, Grunge, Shoegaze, Spacey, sampai Progressive.
Sementara, EmoCore, malah BritPop, Grunge, Shoegaze, Spacey, Metal, Rock n Roll sampai Progressive menaruh buih bibit Gamelan pada efek gitar mereka, synthetizer mereka, groovebox mereka. Indonesian sibuk dengan SuperHero yang terus bertambah banyak. SuperHero Melodic, Emo, Metal, BritPop, Grunge, Jazz, sampai Prosgressive.
Di sebuah Mall yang ramai dengan manusia-manusia Indonesian. Dengan mewahnya fashion yang dikemas murah-meriah di antara kerdil-raksasa kurs dollar-rupiah. Ratusan bahkan ribuan manusia Indonesian di Mall dengan busana ala jagoan SuperHero mereka, terselip bule dengan potongan celana pendek dan kaus oblong yang bersablon “I Love Gamelan”. “Mau ditaruh di mana muka kita?” Saya harus berkata seperti inikah? Saya rasa ini klise….
ZitherMania, Discus, Patrick Portella feat Chandra Puspita di tengah Swiss, Italia dan Perancis yang seksi? Mengapa menghargai mereka sebagai band termahal di negara mereka? “Mestinya kita bercermin, di mana letak libido tersembunyi dari diri kita sendiri.”
Ketika mereka mencium tangan si cantik Borneo, Papua, Java, Bali, Sumatera, East Timor, Sulawesi, Batavia, dengan sangat-sangat romantis. Di waktu yang sama Indonesian seperti mentalak tiga si cantik lugu, dan dibuai selangkangan dari Amerika, Inggris, Kolombia, Latin, Jepang dan jelita-jelita lainnya.
Jauh-dekat di pikiran ketika hendak tidur, makan, berdiskusi dan lain sebagainya. Indonesian, sebenarnya mencintai tanahnya sendiri, saya yakin. Jauh-dekat…. Indonesian merindukan baju, nyanyian, dongeng, dan buku-buku yang ibu berikan dengan ciuman cinta dan doa kelak anaknya memakai, menelaah, mencerita, memainkan, tertawa, dan meneguknya. Indonesian, pasti merindukan mainan rakyatnya dengan sangat-sangat rindu.
Sebelum tanah ini tenggelam, maukah Indonesian memeluknya dengan kerinduan yang sangat? Dan membisik di kupingnya yang penuh hiasan cantik melebihi beautifulnya anting-anting dari perak atau mas “Maaf, saya lama tersasar berlayar di tubuhmu. Maukah menikahiku hari ini juga, cantik?”
……………………………………
About that
Discus adalah satu contoh musik Progressive yang diakui di Eropa yang berasal dari Bandung Indonesia. Hebatnya, grup musik ini ditolak mentah-mentah oleh industri musik Indonesia, justru diterima sangat baik di Swiss. Band ini membawa unsur Ethnic yang Progressive dengan balutan Metal, HeavyRock, Spacey, Psychedelic, Jazz, Gamelan, Musikalisasi Puisi dan Balada. Grup Band ini berasal dari Komunitas pecinta progressive di Bandung. Cerita lucunya, “Discus lebih mahal, mewah, dan lebih hebat daripada Dream Theatre,” ujar penonton konser Discus di Swiss. Dan ini adalah Band mahal di negara itu.
Patrick Portella & Chandra Puspita adalah grup Gamelan yang besar di Perancis. Dengan aransemen jenius pada lagu daerah yang menjadi elegan. Contohnya: Dermayon, Kinanti dan tembang kawih dari Jawa Barat lainnya. Grup ini melibatkan kerjasama musisi Perancis dan Indonesia. Hmm…, spesialnya Eropa adalah ladang makmur subur untuk Indonesian Ethnic tumbuh nyaman di sana, karena Perancis, Italia, Swiss, Jerman, Denmark masyarakatnya sangat menyukai musik etnik yang berasal dari Indonesia.
ZitherMania. Saya kurang tau tentang grup band ini, yang jelas kalau penilaian saya grup ini jenius sekali. Anda bisa menyimak lagu-lagu mereka seperti: “Jipang Jalu” yang beberapa kali berubah dari mulai Sundanesse-Ethnic ke Rock n Roll kemudian Talempong dan solo setiap instrumen yang saling mengisi. Semua adalah alat musik dari Sunda dan Sumatera Barat.
ZitherMania berarti Sitar mania, di sinilah orisinalitas manusia Indonesia bereksperimantal dengan musiknya yang sangat orisinil. Bisa kita lihat pada lagu mereka yang berjudul “Genggong Giring” yang bernuansa Sunda yang erat sekali dengan “Mitologi dan Gnotism” atau banyak sekali tabu. Sebagai contoh: “Pamali” atau larangan di daerah Sunda. Dalam lirik dan nuansa musik yang membuat bulu kuduk berdiri, dengan lirik yang “Pamali”. membawa si pendengar masuk ke dalam lingkungan Sunda yang berbau mistis, mantraik, matriarki, mitologi nenek moyang mereka. Jenius.
Dan masih banyak Band Ethnic yang besar di luar negeri. Mengapa bangsa kita sendiri malu mendengar Keroncong, Orkes Melayu, Orkes Keroncong yang diadaptasi dari budaya Portugis, Gamelan, dan lain sebagainya sebagai “Bumbu” dari aransemen lagu mereka.
Banyak sudah yang mencoba unsur Ethnic Indonesia dimasukan pada musik mereka. Toh, hasilnya menambah nilai orisinalitas dan nilai plus dari pengakuan untuk musisi Indonesia pada dunia global dan bangsa kita sendiri. Baik sebagai derajat dan harga diri. Musisi-musisi masa kini yang menggunakan unsur Indonesian Ethnic bisa kita lihat seperti: Bali Lounge, Navicula, Bharata, SambaSunda, Maliq, dan masih banyak lagi.
-Galih Nugraha Kartadinata, 7 Februari 2007-